Artikel Terpilih

Kasus #7 - Pembunuhan Di Ruang Belajar

By Sherlocked Holmes - 31 August 2012 No Comments
Saat itu malam yang gelap dan dilanda badai petir. Sambaran petir membelah langit di atas rumah Detektif Harlan. "Untung aku tidak harus pergi keluar malam ini," pikir Harlan. Ia menatap keluar jendela tebal, kabut dingin telah menelan seluruh area sekitar.

Ketika sekitar rumahnya tenggelam dalam kabut yang tampak mengerikan, Harlan menduga mungkin suhu udara mencapai 5 derajat sekarang, suhu yang terlalu dingin untuk hal lain selain menikmati teh hangat dan membaca buku.

Harlan meneguk tetes terakhir teh jasmin beraroma kuat, dan beranjak ke dapur untuk membuat teh lagi. Pikirannya mengembara saat ia menuang teh, namun sebuah jeritan keras mengejutkan Harlan dari lamunannya. Ia melompat kaget, menumpahkan air panas ke tangannya namun tidak menyadarinya.

Pikirannya terpaku pada jeritan tadi. Ia menunggu, namun tak ada suara lagi. "Bukan apa-apa," katanya sambil tertawa, dan kembali ke perapian, teh hangat dan bukunya. 10 menit kemudian teleponnya berdering mengejutkannya lagi. Dari Mario, sersan di kepolisian. "Harlan, ada kasus pembunuhan di Jalan Apel nomor 127. Bisakah kau mengeceknya, karena kau yang paling dekat dengan lokasi?"

"Tentu," balas sang detektif, terkejut dengan kenyataan bahwa jeritan tadi ternyata sebuah kasus.

"Terima kasih," kata Mario. "Petugas dari kantor terdekat sudah berada di TKP saat ini."

Jarak yang mesti ditempuh Harlan hanya sejauh satu blok menuju rumah Salina Umar, pewaris perusahaan sukses Umar Snack & Food. Ia mengambil rute yang lebih jauh, melewati beberapa rumah berjarak kira-kira 20 meter dari rumah yang ia tuju. Ia memarkir mobilnya di depan rumah besar dan beranjak masuk. Ia disambut oleh Gary, yang memimpinnya ke ruang belajar dengan jendela besar, tepat di depan mobilnya terparkir dibawahnya. Hanya sebuah lampu meja yang menyala, memberikan nuansa gelap menyeramkan. Di dalam ruang belajar, Arifin, petugas lainnya, memegang kantong barang bukti berisi senjata pembunuh, sebuah pisau pemotong daging besar.

Tubuh Nona Umar tergeletak di tengah ruang kerja ditutupi dengan selembar kain. Di sudut ruangan duduk seorang wanita bergaun malam putih, dan seorang lelaki berpiyama, pakaian mereka kusut dan bernoda darah.

"Apa yang sedang terjadi di sini?" tanya Harlan pada wanita tadi.

Dengan suara tersedak dan berurai airmata ia berkata, "Saya Tesa, pelayan di sini. Saya tinggal di rumah kecil di samping rumah ini. Saat mendengar jeritan saya sedang bersiap tidur. Saya melihat dari jendela ia sedang berkelahi dengan Nona Umar. Saya berlari ke sini untuk menghentikannya, tapi Nona sudah terbaring di lantai." Ia lalu menangis lagi. "Saya mencoba mencabut pisaunya, berharap masih bisa menyelamatkannya tapi ia meyerang saya juga. Seluruh pegawai di sini tahu kalau ia membenci Nona. Mereka berpacaran sampai sebulan yang lalu mereka putus. Lelaki ini tampak baik-baik saja, namun kami semua tahu ia pasti akan membalas Nona."

Apa?!" teriak lelaki disebelahnya. "Dasar pembohong!"

"Tenang pak," sahut Harlan. "Kenapa tidak Anda ceritakan apa yang terjadi."

"Namaku Joni, kepala pelayan. Saya tinggal di rumah kecil di belakang rumah ini. Saya mendengar ia berteriak dan aku lari ke pintu belakang. Ketika saya berada di ruang belajar ini saya melihat Tesa berdiri di samping tubuh Nona Umar. Saya bergegas menghampiri Salina, dan mencoba mencabut pisaunya, mungkin masih ada harapan, tapi Tesa menyerangku. Saya mencintai Salina, tidak mungkin aku mencelakai dia. Tapi Salina memergoki Tessa mencuri perhiasannya. Tesa mengawasi jendela depan dan menunggu Salina memasuki ruang belajar. Ketika Salina memasuki ruangan, Tesa masuk ke rumah dan mencuri perhiasan. Ia akan dipecat Salina dalam waktu dekat," kata Joni sedih.

"Bohong!" jerit Tesa, melompat pada kakinya.

Arifin memegang lengan wanita itu. "Anda harus tenang, bu." Tesa duduk kembali sambil mengumpat.

"Bagaimana pendapat Anda, pak? Kedua sidik jarinya pasti ada di pisau tersebut dan saya bingung dengan dua cerita bertentangan ini," kata Gary.

Harlan berpikir sejenak. "Aku sudah tahu pembunuhnya." Siapa pembunuhnya?
Penjelasan:
Joni berkata jujur dan Tesa berbohong.
Harlan telah melihat pekatnya kabut sore itu melalui jendela rumahnya sehingga ia tahu Tesa tidak akan bisa melihat jendela ruang baca dari jendela rumahnya karena kabut begitu pekat.

No Comment to " Kasus #7 - Pembunuhan Di Ruang Belajar "