Artikel Terpilih

Kasus #6 - Pembunuhan di Wahana Rumah Berhantu

By Sherlocked Holmes - 30 July 2012 3 Comments
Robi, si petugas keamanan, mengeluarkan senjatanya, sambil menarik nafas panjang ia menuruni koridor gelap yang dipenuhi jaring laba-laba plastik, darah palsu, dan rekaman jeritan-jeritan. Ini adalah mimpi terburuk Robi, seorang pembunuh sejati berkeliaran di wahana Rumah Hantu. Setidaknya satu orang telah tewas, dan dibalik pintu-pintu ini mungkin saja terbaring korban lain - atau lebih buruk, justru sang pembunuhnya - menunggu korban lain.

Seseorang di suatu tempat mematikan sound system dan menghidupkan lampu darurat. Robi mencoba membuka pintu kiri. Terkunci. Lalu pintu lain di kanan. Terbuka. Ia mendorongnya selebar dua inchi, dan pintunya mengenai sesuatu yang mengerang. Robi melihat ke bawah, dan melihat darah lagi. Darah asli.


Satu jam berlalu dan polisi telah mengumpulkan fakta-fakta mendasar. Keseluruhannya telah terjadi dua serangan. Jimmi, seorang karyawan berusia 22 tahun, tewas dibunuh dengan kapak. Tentu saja kapak asli, bukan kapak palsu properti wahana. Anisa lebih beruntung. Dia juga terkena serangan kapak. Tapi ketika Robi menemukannya, tak sadarkan diri di balik pintu, ia masih hidup.

"Ini bisa saja menjadi lebih buruk," kata Sersan Gilang kepada kapten, atasannya. "Hanya ada beberapa karyawan di wahana rumah hantu. Penyerang tidak terlihat datang ke gedung, atau meninggalkan gedung. Tapi ia sempat terlihat." Gilang memeriksa catatannya. "Tingginya sedang, dalam kostum hantu dan topeng karet yang menutup seluruh kepala. Kami menemukan kostum, topeng, dan kapak tidak jauh dari lokasi serangan kedua. Berdasarkan hasil laboratorium, darah yang ada di kapak tersebut adalah.. Darah Jimmi dan darah Anisa."

"Pembunuh tidak terlihat memasuki atau meninggalkan gedung." Sang kapten berpikir sejenak. "Aneh sekali, dengan akses yang terbatas pada wahana ini."

"Ya, Pak. Saya akan mewawancarai korban kedua, kemudian berbicara dengan yang lainnya."

Anisa duduk di ranjang rumah sakit dan berbicara dengan susahnya. "Kami baru saja akan membuka rumah hantunya. Jimmi, Mili dan Dodi pergi untuk mengganti kostum. Ayah juga ada di sana. Aku menyalakan sound system dan lampu-lampu. Saya sedang memeriksa ruangan untuk membersihkan sampah ketika saya mendengar teriakan Dodi, tentang orang gila dengan kapak. Beberapa detik kemudian, orang gila tersebut muncul dari sudut ruangan.

"Aku tidak tahu mengapa aku berlari ke ruang bawah tanah. Tidak ada jalan keluar lain.  Maniak ini mendobrak pintu dan mulai mengayunkan kapaknya. Aku terjatuh ke lantai, lalu aku pasti jatuh pingsan. Kupikir, ia mengira kalau aku sudah mati, karena hal berikutnya yang aku tahu, petugas keamanan membangunkanku. Apakah ada orang lain terluka?"

Anisa belum diberitahu tentang kematian pacarnya.

Dodi tampaknya lebih khawatir kepada Anisa daripada tentang kematian sahabat baiknya. "Dia akan baik-baik saja," Gilang meyakinkannya. "Hanya beberapa luka dan memar. Apakah kau melihat serangan pada Jimmi?"

"Hanya sebagian," kata Dodi. "Aku sedang berganti kostum hantu ketika aku mendengar sesuatu. Lalu aku pergi ke kamar sebelah dan ada Jimmi, melawan pria berkostum hantu dan topeng tua. Pria itu mengayunkan kapaknya, dan Jimmi berusaha untuk menahan kapak itu. Saya mencoba untuk membantu Jimmi, tapi Jimmi terkena kapak pria itu, lalu dia berlari keluar ruangan. Saya berteriak untuk memperingatkan yang lain, kemudian mencoba membantu Jimmi. Dia berdarah begitu banyak."

Mili, seperti yang lain, masih berumur 20an: rambut pirang pendek, atletis dan sedikit lebih tinggi dari rata-rata. "Saya berada di ruang ganti lantai bawah, mengenakan kostum penyihir, lalu saya mendengar beberapa teriakan. Tapi saya pikir itu adalah rekaman audio. Saya tidak menyadari ada sesuatu yang salah sampai saya datang ke atas."

Sersan Gilang mengangguk, lalu mengubah topik. "Saya mendengar Anisa dan Jimmi bertunangan."

"Bertunangan? Itu sih maunya Anisa." Mili tertawa kering. "Aku seharusnya tidak boleh kejam pada Anisa. Jimmi dan aku telah bersama sejak bertahun-tahun lalu, sejak SMP. Lalu segala sesuatu menjadi sedikit membosankan dan terlalu serius, dan semuanya terjadi pada saat yang bersamaan. Lalu Jimmi berpendapat kami putus dulu untuk sementara, hanya untuk mendapatkan angin segar. Dan Anisa, adalah pelarian Jimmi. Dan Jimmi mengatakan itu pada Anisa. Jimmi mengatakan pada Anisa bahwa ia ingin kembali bersamaku."

Ini adalah cerita ketiga yang Sersan Gilang dengar. Menurut Anisa, mereka sedang berbahagia, dan Jimmi sudah melamarnya. Menurut Dodi, Anisa menangis di bahunya sepanjang waktu. Dia muak kepada Jimmi dan siap untuk meninggalkannya. Dan sekarang versi Mili.

Sersan menemui ayah Anisa di wahana Rumah Berhantu itu. Kerumunan warga yang ingin tahu berdiri di depan gedung tersebut dihalangi oleh barisan polisi. "Terima kasih Tuhan, Anisa masih terselamatkan." Lalu tertunduk. "Saya tidak tahu apakah ini akan baik untuk bisnis atau buruk."

"Apakah Anda pemilik tunggal rumah ini ?" Gilang bertanya.

"Anisa dan saya," kata pria paruh baya itu sambil bersedih. "Anisa memiliki warisan dari kakek-neneknya dan aku yang dipercayai mengelolanya sampai dia berumur 30 tahun atau menikah. Ini adalah investasi yang baik untuknya."

"Apakah Anda melihat atau mendengar sesuatu yang aneh pagi ini? Apa saja ?"

Ayah Anisa menggelengkan kepala. "Robi dan yang lain semua ada di sana ketika saya membuka pintu. Lalu saya menguncinya kembali, dan pergi ke lantai atas ke kantor. Mereka sering bercanda tentang seorang pembunuh berkeliaran di rumah hantu."

"Saya tidak terkejut."

"Kostum hantu itu dari lemari penyimpanan. Dan kapaknya ...".

"Adalah kapak darurat di tangga."

Ayah Anisa mendesah. "Ini tidak terlihat seperti pekerjaan orang luar, bukan?"

Sersan Gilang setuju. Ini adalah pekerjaan orang dalam. Dan Sersan Gilang punya deduksi yang bagus untuk apa yang telah terjadi. Siapa pembunuhnya? Bagaimana kejadiannya?
Jawaban:
Pembunuhnya: Anisa

Tubuh Anisa yang 'pingsan' tergeletak terlalu dekat dengan pintu sehingga tidak memungkinkan bagi sang pembunuh untuk keluar dari ruangan.

Cerita Mili tentang keputusan Jimmi benar. Jimmi telah bersiap untuk memutuskan Anisa dan kembali bersama Mili, cinta lamanya. Tapi Anisa belum bisa menerima keputusan Jimmi. Cerita Dodi juga cocok, bahwa Anisa sepanjang waktu menangis di bahunya. Namun kepada Dodi, Anisa berbohog bahwa ia siap meninggalkan Jimmi.

Ketika yang lain sedang berganti kostum, Anisa mengambil kostum hantu dan topeng tua, dan kapak darurat di tangga. Ia lalu menyerang Jimmi, namun Jimmi melawan, memberinya luka dan memar. Satu-satunya cara Anisa dapat menjelaskan tentang luka dan memarnya adalah sebagai korban kedua. Ia lalu membuang kapak dan kostumnya, lalu berpura-pura pingsan di ruang bawah tanah.

Kesalahan fatal Anisa? Ia berbaring terlalu dekat dengan pintu ruangan. Jika pembunuh tersebut memang telah menyerangnya di sana, ia mungkin harus memindahkan tubuh Anisa terlebih dahulu untuk lalu menyelinap keluar ruangan.

3 comments to ''Kasus #6 - Pembunuhan di Wahana Rumah Berhantu"

ADD COMMENT
  1. pertama gw pikir emang si anisa, tapi pas liat keterangannya dodi, malah gw lebih curiga ke dia, dia bilang melihat jimmi melawan pria bertopeng, gimana dia tau itu pria?, klo mukan dan badannya ditutupi topeng sama kostum hantu?

    ReplyDelete
  2. setuju brow . agak membingungkan tapi keren

    ReplyDelete
  3. (kostum hantu dan topeng karet yang menutup seluruh kepala)

    keterangan dodi memang mengecoh, yaa... terkadang penjelasan dari saksi di lokasi pun, masih sangat perlu di cerna lagi, sersan gilang hebat ya, pembacanya juga hebat :)

    ReplyDelete