Artikel Terpilih

Jalan-jalan ke Baker Street 221b

By Roy Andika - 04 April 2012 No Comments
Berbagi pengalaman dari salah seorang Sherlockian Indonesia yang berkesempatan mengunjungi museum Sherlock Holmes di Baker Street 221B, London, Inggris. Artikel ini ditulis pada tanggal 18 Desember 2009 oleh saudara Irwan Syahrir. Berikut ini catatan perjanalannya mengunjungi Museum Sherlock Holmes yang terkenal itu.

London digelayuti mendung. Hari ini hari kedua kunjunganku. Musim liburan paskah sedang berlangsung. Liburan paskah adalah liburan penting (dan panjang) kedua setelah natal. Biasanya dianggap sebagai saat berakhirnya musim dingin. Saat menjelang suka cita musim panas. Terangnya matahari di hari-harinya yang panjang. Musim liburan ini kota Oslo, kota tempat tinggalku, selalu jadi mendadak sepi. Toko-toko tutup. Orang banyak yang mengambil cuti untuk menggenapkan liburan jadi seminggu. Dulu waktu masih baru tinggal di Oslo, orang-orang menyarankan untuk membeli cukup bahan makanan, karena tidak ada toko yang buka pada musim liburan itu.
Dibawah rintik hujan yang berlangsung sejak pagi, aku berdiri di halte seberang hotelku menunggu datangnya bis tingkat (double decker). Hotelku terletak di Gower Street, West End, hanya beberapa blok dari Universitas London. Aku naik line 24 jurusan Pimlico. Jalur ini melewati Soho, ChinaTown, Shaftesbury avenue, Trafalgar Square, Westminster Abbey dan Gedung Parlemen (tempat jam Big Ben). Aku belum ada tujuan pasti selain untuk merasakan naik bis tingkat warna merah khas London menyusuri jalan-jalan kota metropolitan ini. Karena masih pagi, belum banyak orang, aku bisa dapat tempat duduk paling depan di bagian atas bis. Sepanjang jalan kupotret sudut-sudut kota yang kuanggap menarik.
Sebuah sepatu stiletto besar berwarna putih dipajang disebuah gedung theater di sekitar Charing Cross yang mementaskan lakon Priscilla: Queen of the Desert. Trafalgar Square yang tak pernah sepi orang. Berbagai ornamen kota yang khas inggris seperti: mobil taksi, kotak pos merah, titik biru (blue dots) yang menghiasi gedung-gedung bernilai sejarah, simbol lingkaran merah dibelah garis horizontal biru bertuliskan “underground” yang menjadi tanda pemberhentian subway, tiang hitam dipersimpangan jalan dengan panah-panah menunjuk ke berbagai arah dan tentu saja westminster abbey, Big Ben dan London Eye. Di Parliament Square kulihat ada demonstrasi menuntut kepedulian Inggris untuk menyetop genosida atas kelompok Tamil di Srilanka. Ada spanduk putih bertuliskan “Hunger Strike Day 4″. Kuhabiskan waktu di seputar lokasi ini hingga waktu makan siang.
Selepas makan siang di Shaftesbury Avenue, aku putuskan untuk mengunjungi museum Sherlock Holmes. Dengan bantuan Lonely Planet guide kutemukan letaknya di peta. Sistem transportasi kota ini teratur rapi, dan aku sudah cukup biasa dengan sistem seperti ini di kota kediamanku di Oslo, namun karena London sangat besar, jadi butuh waktu juga untuk memahami sistem tersebut. Karena belum terbiasa memahami petunjuk di halte, ditambah desakan sesama calon penumpang, membuatku beberapa kali salah tempat tunggu. Bis yang seharusnya kunaiki tak kunjung datang. Rupanya ada dua jalur bis yang lewat di sekita Baker Street. Kedua jalur tersebut baru berpisah setelah melewati Baker Street. Jadi aku pikir aku naiki saja yang datang duluan yaitu line 139 ke West Hampstead.
Bis yang kutumpangi melewati Oxford Circus (bunderan Oxford), salah satu pusat keramaian utama disamping Piccadily Circus dan Trafalgar Square. Geli juga rasanya mengingat ketika membaca buku panduan, aku membayangkan Piccadily Circus itu – dari namanya – adalah sebuah sirkus lengkap dengan binatang-binatang eksotis, badut dan akrobat.
Selepas Oxford Circus, keramaian mereda. Bahkan keramaian tidak bersisa ketika bis menyusuri jalan-jalan kawasan pemukiman. Semuanya terlihat begitu tenang dalam nuansa mendung yang teduh seperti yang tergambar dalam serial tv buatan inggris, seperti Mr. Bean atau Fawlty Tower. Seperti juga di norway atau di kebanyakan negara eropa lainnya, di dalam bis selalu ada petunjuk halte berikut yang tertulis di layar maupun disebutkan secara lisan lewat speaker, misalnya “Ini adalah bis 139 jurusan West Hampstead. Perhentian berikutnya adalah … “. Jadi sambil menikmati pemandangan daerah pemukiman London, aku menunggu-nunggu nama Baker Street station disebut. Perhatianku teralih beberapa saat ketika bis melewati London Business School di Park Road.
Sejenak moodku berubah nostalgik. Ternyata impian masa lalu untuk sekolah di Inggris masih ada bekasnya. Gaya bangunan, tata letak dan ornamen-ornamen bangunan kampus disana memang mirip yang gambaran yang aku dapat dari British Council (BC) Surabaya dulu. Sesaat benakku dipenuhi dengan impian-impian lama ketika membolak-balik brosur universitas disana. Aku dulu memang suka nongkrong di BC sepulang sekolah untuk baca-baca buku literatur klasik edisi luks, buka-buka brosur universitas, membaca majalah asing, atau sekedar menonton serial video.
Setelah bis semakin jauh dari lingkungan kampus London Business School, aku mulai curiga kok tampaknya sudah keluar dari suasana pusat kota (downtown). Padahal menurut buku panduan Baker St. seharusnya tidak begitu jauh dari pusat kota. Segera aku turun di halte berikutnya Lisson Grove, dan mengecek peta lagi. Naluri waspada akibat kehilangan arah meningkat lagi menggantikan lamunan masa lalu yang menghanyutkan.
Ternyata benar aku telah kelewatan agak jauh. Akhirnya aku menunggu di halte yang berseberangan untuk mencegat bis yang ke arah pusat kota lagi. Halte ini terletak di daerah pemukiman yang cukup sunyi. Tak banyak kendaraan yang lewat. Suasana liburan paskah lebih terasa disini daripada di pusat kota London. Di seberangku kulihat berjajar toko boneka, kafe dan sejumlah toko kecil. Semua tutup. Tidak seperti di pusat kota London yang tetap “business as usual”. Dalam hati aku bergumam, ini enaknya di London, faktor bahasa membuatku cepat mengerti semua yang terjadi disekitarku. Papan nama toko, pengumuman, iklan, bahkan surat kabar semuanya bisa kupahami.
Display menunjukkan bis yang kutunggu masih enam menit lagi datangnya. Aku putar lagu-lagu Oasis di iPodku. Lagu-lagu yang kukenal baik seperti Rocking Chair, Dont Look Back In Anger, dan Wonderwall. Nada-nada yang cocok untuk jadi “soundtrack”ku saat itu. Lagu-lagu itu adalah kesukaanku saat masa remaja dulu. Kenangan mimpi-mimpi mengunjungi Eropa kembali datang tak terbendung. London masih mendung dan hujan rintik-rintik tidak membuat kuyup.
Bis 139 jurusan Waterloo datang, aku naik lagi, kali ini dengan sedikit lebih awas. Karena terlalu hati-hati aku turun terlalu cepat. Untungnya aku jadi melewati kampus London Business School tadi lagi, dan sekarang jalan kaki. Lebih bebas memandang kompleks kampus yang lengang sambil membayangkan dinamikanya di kala ramai.
Sepuluh menit berlalu sampailah aku di tikungan Baker Street. Papan nama jalan bertuliskan: Baker Street NW1 – City of Westminster. Apartemen nomor 221b ternyata dekat pojokan. Sebuah apartemen kecil (dan fiktif) yang diubah sedemikian rupa sesuai dengan deskripsi dalam cerita Sherlock Holmes karya Sir Arthur Conan Doyle. Di apartemen sebelahnya ada toko suvenir bertuliskan “The Sherlock Holmes Museum – Souvenirs, Books, Antiques and Curios”. Orang harus membeli tiket masuk disana seharga 6 pound, lalu antri menunggu giliran masuk. Karena tempatnya kecil, harus diatur jumlah pengunjung yang masuk bersamaan.
Seorang polisi berpakaian ala Scotland Yard dengan topi khas, seragam dan jubah berdiri di pintu gedung sambil mengatur giliran. Di pagar depan ada sebuah papan bergambar Sherlock dengan topi dan pipa khasnya bertuliskan “Sherlock Holmes – Consulting Detective”. Sang polisi juga menyediakan pipa dan topi buat turis yang ingin berfoto ala Sherlock sambil menunggu giliran masuk.
Di lantai dua kami disambut seorang bapak tua yang mengaku sebagai Dr Watson. Dia menanyakan negara asal kami dan berbasa-basi sedikit dengan ucapan selamat datang di kediaman dia dan Sherlock. Aku tanya, Sherlock mana? Sedang keluar, jawab Watson. Lalu dia menerangkan isi apartemen 3 lantai itu, dimana kamar Sherlock, kamar dia dan ada beberapa lantai khusus yang isinya patung-patung yang diambil dari berbagai episode ceritanya.
Sebelum kami dipersilakan mengeksplorasi, dia menawarkan siapa yang mau berfoto sebagai Sherlock dengan pipa dan topi khasnya. Langsung aku mengiyakan sambil minta tolong seorang wisatawati dari Austria untuk mengambil fotoku. Aku duduk disofa, bertopi Sherlock sambil memegang pipa cangklong besar, bercakap dengan Watson. Setelah itu pengunjung bebas untuk mengunjungi setiap sudut apartemen. Tentu saja tidak ada batasan untuk memotret layaknya di beberapa museum tertentu, toh semuanya adalah benda fiktif, bukan benda bersejarah.
Buku-buku. Pipa cangklong berbagai bentuk, tergantung di dinding maupun terserak diatas meja. Topi khas Sherlock. Kaca pembesar berbagai ukuran. Teropong. Pena dan tinta. Perangkat cukur jenggot. Jam rantai. Pistol kuno maupun modern. Foto-foto. Berkas-berkas kasus yang terbuka. Kotak korek api. Meteran. Lencana polisi. Diary. Dan berbagai benda kuno lainnya memberikan kesan sangat maskulin dan intens. Seorang jenius dengan otak yang sangat aktif dan diaktifkan dengan stimulan tembakau, morfin atau kokain (lihat The Sign of Four).
Di loteng ada wastafel dan kakus model lama dengan tanki air terpisah dan digantung di dinding dengan posisi cukup tinggi. Ada baskom dan tempat air porselen disamping kakus. Keranjang baju kotor, sepasang sepatu coklat kulit, handuk putih dan penebah tergantung di dinding. Tidak rapi, seperti rumah yang sedang ditinggali.
Di lantai selanjutnya lebih mengesankan museum dengan patung lilin tokoh-tokoh dan episode-episode dalam cerita. Plakat-plakat berisi cuplikan kasus-kasus petualangan Sherlock dipajang untuk menjelaskan berbagai episode tersebut seperti: The case of The Red Headed League atau The Disappearance of Lady Francis Carfax dan sebagainya.
Para penggemar serial Sherlock Holmes pasti akan senang mengunjungi museum ini. Cerita ini pun aku tulis untuk papaku – seorang fans Sherlock. Kehadiranku disini me’wakili’nya. Intensnya suasana apartemen Sherlock tadi – penuh dengan barang-barang yang kusukai, terutama buku – tentu saja membangkitkan minatku untuk membaca serial ini. Sebelum kembali ke Oslo kubeli beberapa jilid cerita tulisan Arthur C. Doyle ini, berikut DVD boks dengan Jeremy Brett sebagai pemeran Sherlock Holmes. Sebuah ranah baca baru siap untuk dieksplorasi.

No Comment to " Jalan-jalan ke Baker Street 221b "